Ablasio: Kisah Epistemik Manhaj Nubuwwah Menuju Cahaya Ilahi
Bagaimana jika suatu hari cahaya perlahan menghilang dari mata Anda?
Bagi Irfan Yahya, seorang doktor Sosiologi, akademisi, dan aktivis Hidayatullah, vonis ablasio retina bukan sekadar ancaman kehilangan penglihatan fisik. Ia menjadi awal dari sebuah perjalanan yang sama sekali tak pernah ia bayangkan. Ketika dunia yang selama ini ia baca dengan mata, data, dan logika berubah menjadi gelap, ia justru dipaksa meruntuhkan fondasi epistemiknya dan belajar membaca kehidupan dengan cara yang sama sekali berbeda.
Di tengah dinginnya ruang operasi, kesunyian sepertiga malam, doa-doa yang lirih, cinta keluarga yang tak pernah surut, serta bimbingan para guru kehidupan, perlahan terungkap bahwa ada cahaya yang tak pernah bergantung pada retina. Cahaya itu menuntunnya menelusuri kembali hakikat ilmu, mempertemukan akal dengan wahyu, hingga menyingkap jati diri manusia di hadapan Sang Pencipta.
Perjalanan batin itu membawanya pada penyingkapan makna tiga nama yang membentuk identitas hidupnya: Irfan, Yahya, dan Hayatu, serta pada sebuah ayat Al-Qur'an yang menjadi jawaban atas seluruh kegelisahan pencariannya.
Ablasio bukan sekadar kisah tentang kehilangan penglihatan. Novel ini adalah ziarah epistemik tentang bagaimana sebuah ujian mengubah cara seseorang memaknai pengetahuan, memahami penderitaan, dan menemukan cahaya yang sesungguhnya.
Sebuah novel reflektif yang memadukan pengalaman nyata, pergulatan intelektual, dan perjalanan spiritual dalam satu narasi yang menghangatkan hati sekaligus menggugah cara kita memandang hidup.
Sebab, ada saatnya Allah menutup penglihatan mata agar manusia belajar melihat dengan cahaya yang tak pernah padam.
Detail
| Penulis | Irfan Yahya |
|---|---|
| Layouter | Azmi Laitupa |
| Halaman | xiv + 299 Halaman |
| Ukuran | 15,5 x 23 CM |
| ISBN | 999-xxx-xxx-xxx-xx |
| Bahasa | Indonesia |
| Penerbit | Unhas Press |






Reviews
There are no reviews yet.